1. PENDAHULUAN
Kesadaran membaca
merupakan sikap yang dapat diterapkan dan dikembangkan. Namun terkadang, budaya
menonton telah mempengaruhi tingkatan membaca seseorang. Adakalanya, sebagian
dari kita lebih senang mendengar berita di radio atau menontonnya di televisi,
ketimbang membaca buku atau surat kabar. Padahal berita yang disajikan melalui
radio dan televisi sifatnya sekilas dan tidak diulang kecuali pada jam yang
berbeda. Tetapi kalau dalam bentuk tertulis kita bisa membaca berulang-ulang
dan bisa mendiskusikannya dengan sesama pembaca jika ada kalimat yang tidak
kita pahami maksudnya.
Di negara kita sendiri (Indonesia) upaya
untuk menumbuhkan minat baca tulis ini sudah secara tidak langsung dilakukan
oleh R.A Kartini (1879-1904) yaitu dengan mengurangi jumlah penderita buta
aksara. Kartini mengajar membaca dan menulis kaumnya sekalipun dia sendiri
hanya berpendidikan Sekolah Dasar. Perjuangan yang dilakukan oleh Kartini ini
memang tidak sia-sia karena United
Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO)
memberikan penilaian bahwa Indonesia dijadikan sebagai model pemberantasan buta
aksara di kawasan Asia Pasifik.
Sejak 2007, buta aksara di Indonesia turun
1,7 juta orang, menjadi 10,1 juta. Pada
tahun 2011 penduduk Indonesia berusia 15-59 tahun yang masih tuna aksara
berjumlah 6.730.682 orang, terdiri atas 2.265.399 orang laki-laki dan 4.465.282
orang perempuan. Sekitar 7 juta di antaranya
perempuan. Namun sangat di sayangkan, berkurangnya angka penderita buta aksara
tidak lantas membuat minat baca tulis masyarakat Indonesia menjadi tinggi. International Educational Achievement
mencatat kemampuan membaca siswa Indonesia paling rendah di kawasan ASEAN.
Kesimpulan itu diambil dari penelitian atas 39 negara. Indonesia menempati
urutan ke-38. Dua hal itu antara lain menyebabkan United Nations Development Program (UNDP)
menempatkan Indonesia pada urutan rendah dalam hal pembangunan Sumber daya
manusia.
Sebenarnya ada banyak
faktor yang menyebabkan rendahnya minat baca tulis masyarakat Indonesia. Pertama kurangnya
fasilitas pendukung, seperti misalnya taman bacaan masyarakat yang bisa
mendukung minat baca tulis masyarakat. Kedua,
kurangnya penghargaan terhadap hasil karya berupa tulisan. Ketiga, status ekonomi
masyarakat kita yang kebanyakan berada di bawah standar menyebabkan sebagian
besar masyarakat lebih memilih menghabiskan waktu untuk mencari uang, daripada
duduk manis di kursi untuk membaca atau menulis, tidak hanya itu harga buku
yang terkadang tidak terjangkau oleh sebagaian masyarkat dapat dijadikan salah
satu alasan rendahnya minat baca masyarkat. Keempat,
Adanya asumsi yang berkembang di masyarkat bahwa kegiatan membaca
dan menulis adalah pekerjaannya orang-orang mempunyai kemampuan secara
intelektual seperti mahasiswa, dosen, politikus, dan lainnya. Kelima, buku yang beredar
di masyarakat selama ini kurang bervariasi, secara implisit buku-buku yang ada
selama ini memang disediakan untuk mereka yang secara khusus menyediakan waktu
untuk membaca. Mengapa? Sebab, performance
buku itu sendiri yang mengharuskan dibaca dengan serius dan membutuhkan waktu
lama (tema serius, tebal, bahasa, dan kaidah penulisan yang ketat). Karena itu,
sebagian orang menganggap membaca buku bukan hal menyenangkan melainkan justru
membebani, dan membuat pikiran mumet. Selain kelima hal tersebut diatas,
kemajuan di bidang elektronik juga dapat dijadikan sebagai salah satu penyebab
rendahnya minat masyarakat untuk membaca dan menulis, terutama kaum remaja.
Masyarakat Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang cenderung
lebih mengembangkan budaya lisan atau dengar dibandingkan dengan budaya tulis,
sekali pun budaya tulis sebenarnya telah lama dikenal dan digunakan (Kompas,
1 Februari 1996). Kebutuhan informasi secara visual
lebih tinggi daripada kebutuhan sebuah bahan bacaan. Budaya menonton sudah
menjadi kebiasaan yang sepertinya begitu sulit untuk ditinggalkan. Sedangkan
budaya membaca disadari atau tidak semakin hari semakin terpinggirkan. Fenomena
umum di negeri ini adalah bahwa budaya lisan atau budaya mendengar lebih kuat
mengakar dalam tradisi masyarakat dibandingkan budaya membaca
dan menulis. Hal ini terlihat pada realita yang sering kita temui di
masyarakat, semisal lebih suka mendengar cerita dari orang lain daripada
membaca sendiri, lebih nyaman mengisi waktu luang saat menunggu ataupun tidak
melakukan aktivitas yang berarti dengan ngerumpi daripada menjatuhkan pilihan
pada membaca ataupun menulis, lebih senang pada tayangan-tayangan yang di-dubbing daripada harus
membaca teks terjemahan tertulis dalam suatu tayangan, lebih riang menonton
versi layar lebar dari sebuah cerita atau mendengarkan pembacaan puisi ataupun
cerpen daripada membaca teks tertulis atau bukunya sendiri, dan sederet realita
yang lain.
Jika di suatu negara
minat masyarakatnya untuk menulis dan membaca rendah maka akan sulit
membangunan manusia moderen untuk masa depan. Manusia moderen adalah manusia
yang siap menghadapi transformasi di segala bidang yang ditunjukkan dengan
kemampuan berfikir secara cepat dan tepat. Sebagai bangsa yang masih berkembang
dan ketinggalan jauh dari negara-negara maju lainnya dalam hal ilmu pengetahuan dan teknologi, maka kita harus cepat berbenah diri dan mulai
menigkatkan kualitas Sumber Daya Manusia, yang salah satunya dapat ditempuh
dengan meningkatkan minat baca dan tulis masyarkat kita. Karena lewat buku
bacaan, kita dengan rela akan meninggalkan pandangan-pandangan sempit yang
tidak sesuai lagi dengan zamannya, kita juga dapat memperoleh banyak
pengetahuan yang sebelumnya tidak kita ketahui. Berbagai buku yang padat
informasi tentang perkembangan ilmu pengetahuan serta pengalaman masyarakat
dunia pada gilirannya nanti akan membuat kita ikut berpacu mengejar kemajuan
yang juga coba diraih bangsa-bangsa lain. Tapi akan sulit rasanya untuk
mengejar ketinggalan kita, jika realita yang ada selama ini menunjukkan jumlah taman
bacaan masyarakat yang ada di Indonesia belum sesuai dengan jumlah pemakainya,
selain ini buku-buku yang di sediakan masih belum bervariasi sehingga
masyarakat merasa enggan untuk membaca atau masuk ke dalam taman bacaan
masyarakat. Padahal taman bacaan masyarakat akan sangat berperan penting untuk
meningkatkan minat baca dan tulis masyarkat.
Upaya mewujudkan
tatanan masyarakat belajar, reorientasi pemikiran kita lebih cenderung pada pendidikan
kearah pemberdayaan dan pendidikan sepanjang masa yang relevansinya dengan
pembangunan. Pendidikan harus dipandangsebagai
investasi modal berupa sumber daya manusia (SDM). Untuk mengfungsikan sumber– sumber tersebut secara optimal perlu
waktu, telaten , ulet, dan sabar serta
dengan cara tertentu, juga diperlukan
dukungan, motivasi dan bantuan.
Lebih khusus,
secara letak geografis desa Ngabul
memiliki luas 604.906 Ha, terletak
200 meter dari permukaan air laut, beriklim tropis dengan curah hujan 10
mm/th, temperatur suhu udara rata-rata 23 s.d. 32 ° C. Sedangkan secara
topografis , kondisi wilayahnya terdiri atas 73,62 % tanah pekarangan, tegalan yang kering dan
26,38 % berupa tanah sawah tadah hujan. Desa Ngabul terdiri dari 3 dukuh yaitu : dukuh Krajan, dukuh
Jokosari dan dukuh Jeruk Gulung, dengan jumlah pembagian wilayah RT (Rukun
Tetangga) sebanyak 34, dan RW (Rukun Warga) sebanyak 7.
JUMLAH
PENDUDUK DESA NGABUL
|
Rumah Tangga
(RT)
|
Jumlah
Penduduk
(lak-laki)
|
Jumlah Penduduk
(perempuan)
|
Total Jumlah Penduduk
(jiwa)
|
Jumlah Kepala Keluarga
(jiwa)
|
|
1
|
908
|
917
|
1.825
|
609
|
|
2
|
807
|
813
|
1.620
|
439
|
|
3
|
786
|
802
|
1.588
|
503
|
|
4
|
802
|
793
|
1.595
|
438
|
|
5
|
868
|
884
|
1.752
|
495
|
|
6
|
686
|
703
|
1.389
|
374
|
|
7
|
735
|
739
|
1.474
|
431
|
|
Jumlah
|
5.592
|
5.961
|
11.553
|
3.287
|
Sumber : Data
diolah, Monografi Desa Ngabul, 2010
Data
Monografi Penduduk, penduduk Desa Ngabul sebanyak 11.553
jiwa, terdiri atas 5.592 jiwa laki – laki dan 5.961 jiwa perempuan. Sedangkan menurut data PPS (Panitia Pemungutan
Suara) desa Ngabul tahun 2011, jumlah penduduk yang memiliki hak suara sebanyak
8.919 orang terdiri dari: 4.450 laki-laki dan 4.469 perempuan.
JUMLAH
PENDUDUK MENURUT USIA
|
Jumlah
Penduduk
Usia 0-6 tahun
|
Jumlah
Penduduk
Usia 7-12 tahun
|
Jumlah Penduduk
Usia 13-15 tahun
|
Jumlah
Penduduk
Usia 20-26 tahun
|
Jumlah
Penduduk
Usia 27-40 tahun
|
Jumlah
Penduduk
usia 40 th – ke
atas
|
Jumlah
Penduduk
|
|
1.019
|
1.103
|
1.221
|
3.571
|
2.768
|
1.871
|
11.553
|
Sumber : Data diolah, Monografi Desa
Ngabul, 2010
Untuk dapat menumbuhkan minat baca tulis
masyarakat dan membuat baca tulis itu sebuah budaya, maka diperlukan perhatian
dari semua pihak terutama pemerintah sebagai pemegang kebijakan. Salah satu cara yang paling efektif
untuk dapat menumbuhkan minat baca tulis masyarakat ini adalah dengan
mengoptimal peran taman bacaan masyarakat, baik dengan meningkatkan jumlah taman
bacaan masyarakat umum yang ada, maupun dengan meningkatkan kualitas dan
kuantitas buku-buku yang ada dalam taman bacaan masyarakat. Persepsi masyarakat
mengenai fungsi taman bacaan masyarakat yang selama ini hanya diangggap sebagai
tempat untuk membaca juga harus diganti. Selama ini, banyak orang
mempersepsikan dan membayangkan taman bacaan masyarakat hanya sebagai tempat
membaca, dengan tata ruang yang kaku, dan dipenuhi oleh buku-buku tebal yang
membutuhkan kemampuan intelektual yang tinggi untuk dapat membacanya.
TBM (taman bacaan masyarakat)
harus memberikan layanan peningkatan minat baca bagi peserta didik pendidikan
nonformal dan informal serta masyarakat umum melalui penyediaan koleksi buku
bacaan dan kegiatan-kegiatan untuk mendemonstrasikan kemampuan membaca, menulis
dan berkomunikasi.
2.
Sasaran Penerima Manfaat
Sasaran penerima manfaat dari program TBM (taman bacaan masyarakat) adalah sebagai berikut :
· Masyarakat
umum
· Warga masyarakat
yang telah menyelesaikan pendidikan keaksaraan (KF/KUM)
· Peserta
didik anak usia dini beserta orang tuanya
· Peserta
didik usia sekolah tingkat dasar sampai menengah
· Peseta
bimbingan belajar
Perlu
diinformasikan bahwa, lokasi TBM Jendela Ilmu ini berada disekitar lembaga
pendidikan dan tempat ibadah serta sarana umum lainnya yang jaraknya tidak
lebih dari 0 - 500 m dari TBM, seperti : PAUD Jendela Ilmu, Bimbel Jendela
Ilmu, TK Pertiwi 02 Ngabul, Polindes Ngabul, SDN 5 Ngabul, Pos PAUD Mawar,
Madrasah Diniyah, Taman Pendidikan Qur’an Matholi’ul Ulum dan tempat ibadah
mushola dan masjid serta tempat kegiatan
ekonomi seperti toko kelontong, usaha kerajinan mebel.
3.
Tujuan Kegiatan
Tujuan dari
kegiatan TBM Jendela Ilmu ini adalah :
a. Tujuan Umum
1)
Meningkatkan
kemampuan baca, tulis, dan hitung sekaligus meningkatkan semangat gemar membaca
dan belajar masyarakat dan memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk membaca
bahan pustaka yang dapat membantu meningkatkan mereka ke arah kehidupan yang
lebih baik.
2)
Melembagakan
TBM sebagai wadah kegiatan belajar masyarakat dan mendorong terwujudkan masyarakat
pembelajar sepanjang hayat.
3)
Untuk
menciptakan program kegiatan yang mampu memenuhi permintaan warga masyarakat
dalam usaha meningkatkan taraf hidupnya melalui kegiatan membaca, berpengetahuan,
berketerampilan, berbudaya maju, dan beradab.
4)
Memberikan
kesempatan bagi masyarakat untuk membaca bahan pustaka yang dapat membantu
meningkatkan mereka ke arah kehidupan yang lebih baik.
5)
Bertindak selaku agen cultural , artinya taman
bacaan masyarakat (TBM) pusat utama kehidupan budaya bagi masyarakat sekitarnya.
b. Tujuan Khusus
1)
Sebagai
wadah yang menyediakan bahan bacaan
lewat buku-buku pustaka untuk meningkatkan pengetahuan dan memotivasi budaya
membaca masyarakat sehingga tercipta masyarakat gemar belajar serta memberikan
wadah kegiatan belajar masyarakat.
2)
Menyediakan
sumber informasi yang cepat, tepat dan murah bagi masyarakat, terutama mengenai
topik yang berguna bagi mereka yang sedang hangat dalam kalangan masyarakat.
3)
Merangsang
masyarakat untuk selalu memperoleh pengetahuan dan potensi dasar yang terus
berkembang sesuai dengan minat dan bakatnya.
4)
Untuk
memelihara dan meningkatkan kemampuan keaksaraan aksarawan baru sehingga tidak
buta huruf kembali
5)
Melakukan
kegiatan - kegiatan seperti:
lomba-lomba, study banding ke TBM/perpustakaan daerah dan lainnya.
4.
Hasil yang akan dicapai
Hasil yang diharapkan dari kegiatan TBM Jendela Ilmu ini
adalah:
a. meningkatnya budaya baca masyarakat
melalui pembentukan komunitas baca yang dibina oleh TBM dengan meningkatkan
mutu layanan TBM sehingga masyarakat memanfaatkan TBM secara teratur dan berkesinambungan.
b. memperluas akses TBM sampai tingkat
kecamatan.
c. meningkatnya mutu perlengkapan dan
peralatan sebagai sarana kelembagaan TBM dan meningkatnya jumlah koleksi dan
variasi judul bahan bacaan yang disediakan sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang
mencerdaskan pembaca.
d. meningkatnya minat dan termotivasinya
masayarakat untuk membaca serta meningkatnya kegiatan pembudayaan kegemaran
membaca.
e. Terselenggaranya berbagai kegiatan di
bidang peningkatan minat baca masyarakat.
5.
Identitas
Lembaga
- Nama Lembaga : TBM Jendela Ilmu
- Alamat Lengkap : Jln. Bunton (Dukuh Jokosari RT.03/RW.05)
Desa Ngabul Kecamatan Tahunan Kabupaten
Jepara
- No. Telp/HP : 081 325 755 762
- E-mail : jendelailmu_jepara@yahoo.com
- Tanggal Berdiri : 20 Mei 2010
- Ijin Operasional : Nomer : 421.1/0286/2010
Tanggal :
2 Agustus 2010
Dari :
Dinas Pendidikan,Pemuda & Olahraga
Kabupaten Jepara
- Akta Notaris : No. 7 Tgl. 25 Mei 2010
- Nama Bank : Bank BRI Unit Mantingan
No. Rekening : 5893-01-002703-53-5
6. Susunan Kepengurusan
|
No
|
Nama
|
Jabatan
|
Jen Kel
|
Pend akhir
|
|
1
|
Siti
Istiqamah,S.Pd
|
Ketua
|
P
|
S1
|
|
2
|
Ah.Jamaludin,A.Ma.Pd
|
Sekretaris
|
L
|
D2
|
|
3
|
Rochmat,SE.
|
Bendahara
|
L
|
S2
|
|
4
|
Khonik’ah
|
Tng.
Layanan
|
P
|
SLTA
|
|
5
|
Hanna
Shofiana,S.Pd.I.
|
Tng.Adsminstrsi
|
P
|
S1
|
Pembagian Tugas Pengelola sebagai berikut :
- Ketua, mempunyai tugas:
(a)
memimpin TBM,
(b) menyusun
dan menetapkan program,
(c)
memajukan dan mengembangkan TBM,
(d)
melakukan hubungan kerjasama,
(e)
mengelola keuangan,
- Sekretaris, mempunyai tugas:
(a) Menangani
berbagai masalah administrasi
(b) surat menyurat setiap kegiatan.
- Bendahara mempunyai tugas:
(a) mengelola keuangan dengan menggunakan pembukuan yang baik
dan benar,
(b) Memberikan
laporan kondisi keuangan kepada ketua dan pihak-pihak yang membutuhkan setiap
saat dibutuhkan
- Urusan Administrasi dan Teknis, mempunyai tugas:
(a) mengurus
administrasi dan surat menyurat,
(b)
mengadakan seleksi dan pengadaan bahan bacaan,
(c)
melaksanakan pengolahan bahan bacaan,
(d)
melaksanakan pengembangan bahan bacaan,
- Urusan Layanan, mempunyai tugas:
(a)
membuat tata tertib,
(b)
memberikan layanan TBM,
(c)
melaksanakan administrasi keanggotaan.
7.
Sarana dan Prasarana
|
1
|
Luas Lahan/ Bangunan
|
Luas
Tanah: 2480 m²
Luas
Bangunan: 100 m²
|
Milik
pengelola
(Pinjam
selama kegiatan masih berjalan)
|
|
2
|
Rincian Bangunan
|
· Ruang
kantor
· Ruang
belajar
· Ruang
taman bacaan
· Ruang
toilet
· Teras /
tempat tunggu
|
· 1
ruang
· 2
ruang
· 1
ruang
· 1
ruang
· 1
unit
|
|
3
|
Sarana / fasilitas pembelajaran,
antara lain:
|
Meja 2
buah
Kursi 15 set
Papan
tulis 2 set
Rak
buku 2 unit
Loker
1 unit
Komputer 2 unit
Bahan
ajar 10 jenis
Bahan
Bacaan 901 eksp
Tape 1
unit
|
Kondisi : baik
|
8.
Sumber daya manusia
|
Jenis / Profesi Tenaga
|
Tingkat Pendidikan (orang)
|
|||||
|
|
SMP
|
SMA
|
Diploma
|
S1
|
S2
|
Jumlah
|
|
· Pengurus
/ Pengelola
|
0
|
0
|
1
|
1
|
1
|
3
|
|
· Tenaga
adsministrasi/layanan
|
0
|
1
|
0
|
1
|
0
|
2
|
|
Jumlah
|
0
|
1
|
1
|
2
|
1
|
5
|
9. Kegiatan yang telah dilakukan
Adapun kegiatan yang pernah dilakukan
adalah sebagai berikut :
a. Tahun 2010 :
·
Pelayanan
peminjaman buku
·
Lomba
baca puisi
·
Pelatihan
Menulis Berita
·
Bimbingan
belajar
b. Tahun 2011 :
·
Pelayanan
peminjaman buku
·
Lomba
lari karung, makan kerupuk
·
Bimbingan
belajar
c. Tahun 2012 :
·
Pelayanan
peminjaman buku
·
Lomba
rangking 1
·
Membaca
harian
·
Bimbingan
belajar
d. Tahun 2013 :
·
Pelayanan
peminjaman buku
·
Belajar
membuat kliping Koran
·
Lomb
abaca puisi tingkat SD/MI
·
Lomba
synopsis tingkat SLTP
·
Lomba
synopsis tingkat SLTA
·
Bimbingan
belajar
·
Membaca
harian
e. Tahun 2014 :
·
Pelayanan
peminjaman buku
·
Belajar
membuat kliping Koran
·
Bimbingan
belajar
·
Membaca
buku harian
f. Tahun 2015
· Peminjaman
buku
· Membaca
harian
· Bimbingan
belajar matematika dan bahasa inggris
§
Pelatihan membuat bakso ikan, presto
g. Tahun 2016
· Peminjaman
buku
· Membaca
harian
· Bimbingan
belajar matematika dan bahasa inggris
10. Penghargaan
|
No
|
Jenis Lomba
|
Tingkat
|
Keterangan
|
|
1
|
Pengelola
TBM
|
Kab.
Jepara
|
Tahun 2013
Juara 2
|
|
2
|
Pengelola
TBM
|
Kab.
Jepara
|
Tahun 2014
Juara 1
|
11. Penutup
Taman
Bacaan Masyarakat (TBM) merupakan
lembaga yang tidak hanya menyediakan berbagai jenis bahan belajar yang
dibutuhkan masyarakat melalui pengelolaan yang baik, melainkan juga menyediakan
kegiatan lain untuk memberikan pengalaman bagi masyarakat. TBM dimulai dengan
sosialisasi yang kreatif, pola penyelenggaraan yang terdiri dari perencanaan,
pengorganisasian, penggerakkan, pengawasan, dan evaluasi.
Selama
ini, TBM yang ada memiliki keaneka-ragaman, tergantung daerah setempat dan
kondisi dana yang ada. TBM mempunyai kekurangan dan kelebihan. Kekurangan
tersebut terutama berkaitan dengan keseriusan penyelenggara dalam
menyelenggarakan dan mengelola TBM. Keanekaragaman bahan bacaan tidak dikelola
secara professional sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat. Sedangkan
kelebihan TBM—terutama dikarenakan keberadaannya yang jauh dari perkotaan,
sehingga memang sangat dibutuhkan oleh masyarakat setempat guna memenuhi
kebutuhan akan bahan bacaan serta mempertahankan kemampuan membacanya. Untuk
itu, penyelenggara dan pengelola TBM perlu melakukan kegiatan identifikasi
kebutuhan bahan bacaan masyarakat sehingga bahan bacaan yang ada benar-benar
dapat dimanfaatkan oleh masyarakat sesuai dengan kebutuhannya. Pengelola TBM
juga harus meningkatkan kemampuan serta keterampilan dalam mengelola TBM dan
memotivasi masyarakat setempat agar memiliki minat baca.
Karena
itu pula pemerintah perlu memfasilitasi kegiatan peningkatan kompetensi
pengelola TBM misalnya melalui pendidikan dan pelatihan, orientasi teknis
maupun pembinaan secara berkala. Lebih jauh TBM perlu melakukan kegiatan
promosi yang lebih efektif kepada masyarakat.
Membaca buku-buku pustaka terkesan
jenuh dan tidak memberikan semangat jika
yang dibaca tidak ada koleksi buku pustaka yang bervariasi, untuk itu perlu
dicarikan solusi bagaimana agar masyarakat gemar membaca dan mau meningkatkan pengetahuannya. Salah satu
alternatif solusi. menurut kami, adalah mencarikan bantuan baik itu berupa buku
pustaka maupun bantuan berupa dana.
Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Jendela
Ilmu merupakan program meningkatkan minat membaca dan belajar serta pengetahuan
kepada warga belajar khususnya dan warga masyarakat umumnya.
Karena dengan tersedianya sarana buku pustaka yang
memadai baik yang berupa pengetahuan life skills, pendidikan, agama dan dakwah,
kesenian, budaya, sejarah, dan ilmu pengetahuan lainnya melalui maka akan
menambah pengetahuan dan menumbuhkan minat membaca dan belajar terhadap warga
masyarakat.

0 komentar:
Posting Komentar