Di negara kita
sendiri (Indonesia) upaya untuk menumbuhkan minat baca tulis ini sudah secara
tidak langsung dilakukan oleh R.A Kartini (1879-1904) yaitu dengan mengurangi
jumlah penderita buta aksara. Kartini mengajar membaca dan menulis kaumnya
sekalipun dia sendiri hanya berpendidikan Sekolah Dasar. International
Educational Achievement mencatat kemampuan membaca siswa Indonesia paling
rendah di kawasan ASEAN. Kesimpulan itu diambil dari penelitian atas 39 negara.
Indonesia menempati urutan ke-38. Dua hal itu antara lain menyebabkan United
Nations Development Program (UNDP) menempatkan Indonesia pada urutan
rendah dalam hal pembangunan Sumber daya manusia.
Fenomena umum di
negeri ini adalah bahwa budaya lisan atau budaya mendengar lebih kuat mengakar
dalam tradisi masyarakat dibandingkan budaya membaca dan menulis. Hal ini
terlihat pada realita yang sering kita temui di masyarakat, semisal lebih suka
mendengar cerita dari orang lain daripada membaca sendiri, lebih nyaman mengisi
waktu luang saat menunggu ataupun tidak melakukan aktivitas yang berarti dengan
ngerumpi daripada menjatuhkan pilihan pada membaca ataupun menulis, lebih
senang pada tayangan-tayangan yang di-dubbing daripada harus membaca teks
terjemahan tertulis dalam suatu tayangan, lebih riang menonton versi layar
lebar dari sebuah cerita atau mendengarkan pembacaan puisi ataupun cerpen
daripada membaca teks tertulis atau bukunya sendiri, dan sederet realita yang
lain.
Sebenarnya ada
banyak faktor yang menyebabkan rendahnya minat baca tulis masyarakat Indonesia
antara lain:
1)
Kurangnya fasilitas pendukung, seperti
misalnya perpustakaan yang bisa mendukung minat baca tulis masyarakat.
2)
Kurangnya
penghargaan terhadap hasil karya berupa tulisan.
3)
Status ekonomi masyarakat kita yang
kebanyakan berada di bawah standar menyebabkan sebagian besar masyarakat lebih
memilih menghabiskan waktu untuk mencari uang, daripada duduk manis di kursi
untuk membaca atau menulis, tidak hanya itu harga buku yang terkadang tidak
terjangkau oleh sebagaian masyarkat dapat dijadikan salah satu alasan rendahnya
minat baca masyarkat.
4)
Adanya asumsi yang berkembang di masyarkat
bahwa kegiatan membaca dan menulis adalah pekerjaannya orang-orang
mempunyai kemampuan secara intelektual seperti mahasiswa, dosen, politikus, dan
lainnya.
5) Buku yang beredar di masyarakat selama ini kurang
bervariasi, secara implisit buku-buku yang ada selama ini memang disediakan
untuk mereka yang secara khusus menyediakan waktu untuk membaca. Mengapa?
Sebab, performance buku itu sendiri yang mengharuskan dibaca dengan
serius dan membutuhkan waktu lama (tema serius, tebal, bahasa, dan kaidah
penulisan yang ketat). Karena itu, sebagian orang menganggap membaca buku bukan
hal menyenangkan melainkan justru membebani, dan membuat pikiran mumet. Selain
kelima hal tersebut diatas, kemajuan di bidang elektronik juga dapat dijadikan
sebagai salah satu penyebab rendahnya minat masyarakat untuk membaca dan
menulis, terutama kaum remaja.

0 komentar:
Posting Komentar